Saturday, December 7, 2013

PEDOMAN DIRI

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.Salam sejahtera buat sahabat teman ain kasihi.Semoga senantiasa dalam lindungan, Rahmat Allah SWT, aamiin.

Coretan ini sebagai renungan diri dan juga buat sahabat ain kasihi sekalian.Semoga bermanfaat, insyaAllah.

PEDOMAN DIRI

~ Kita diberikan taufik & hidayah atas izin Allah...
~ Kita dikurniakan nikmat iman atas izin Allah...
~ Kita jadi baik atas izin Allah... 
~ Kita dilahirkan Islam atas izin Allah...
~ Kita dipilih kembali pada Islam atas izin Allah...







Semuanya atas izin Allah... Tiada suatu pun berlaku tanpa pengetahuan NYA... Semua dalam kekuasaan Allah SWT...Maka, usah mendabik dada atau berasa riak akan nikmat yang diberi.Boleh jadi nikmat kita kecapi ini ditarik pada bila-bila masa. 


Andai kita melihat kemungkaran di depan mata, maka ubahlah ia dengan kemampuan yang kita ada walau sekadar sepotong doa sekalipun.


Andai kita merasakan orang sekeliling bakal mempengaruhi atau boleh menggugat kekuatan kita dalam berhijrah, fikirkan kembali...


Memang benar, kita adalah dengan siapa kita berkawan.Namun, FIKIRKAN KEMBALI.


Boleh jadi insan-insan ini yang mungkin pada sangkaan kita jahil dalam agama, seorang yang sering terlibat dalam perkara-perkara mungkar atau mungkin cara hidupnya jauh dari syariat Islam.


Namun, apa TUGAS KITA??? 


Bergaul dengan mereka tidak bererti kita juga bakal terpengaruh.Pokok pangkalnya semuanya datang daripada diri kita sendiri.Bagaimana kita membawa diri, ketegasan kita dalam sesuatu perkara dan berlembut apabila perlu.


KENALI diri sebelum menilai orang disekeliling kita.
KENALI kekuatan diri sebelum kita menilai kelemahan orang lain.


Ingatan seorang Ustazah, apabila kita melihat seseorang yang masih jauh dari agama, ucaplah syukur pada Allah kerana dengan izin NYA kita diberi peluang melakukan kebaikkan.


Kehadiran mereka bukanlah bakal menggugat perubahan pada diri, sebaliknya jadikanlah ia momentum untuk kita sama-sama mengajak ke arah kebaikkan.Bersama-sama dalam mencari redha Ilahi.


Asbab kehadiran mereka kita berusaha untuk jadi lebih baik...
Asbab kehadiran kita boleh jadi membantu mengajak orang disekeliling ke arah yang positif...


InsyaAllah semuanya dengan izin Allah SWT.


Ingatan buat diri ini juga.


Salam Perjuangan,
Nur'Ain Vivian 

Friday, December 6, 2013

AL HABIB UMAR BIN MUHAMMAD BIN SALIM BIN HAFIDZ

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.Salam Jumaat buat teman, sahabat ain kasihi.

Di sini ain kongsikan artikel yang ain perolehi di page Pondok Habib untuk rujukkan dan bahan bacaan buat kita bersama.

Semoga ianya bermanfaat, insyaAllah.


AL HABIB UMAR BIN MUHAMMAD BIN SALIM BIN HAFIDZ

Beliau dilahirkan sebelum fajar hari senin, 4 Muharram 1383 H / 27 Mei 1963M di Kota Tarim. Di kota yang penuh berkah inilah beliau tumbuh dan menerima didikan agama serta menghafal kitab suci al-Quran dalam keluarga yang terkenal iman, ilmu dan akhlak yang luhur. Guru pertamanya sudah tentu ayah beliau yaitu Habib Muhammad bin Salim yang juga merupakan Mufti Kota Tarim al-Ghanna itu.
Daftar isi [sembunyikan]
1 Nasab
2 Biografi
3 Karya
4 Wasiat dan Nasihat
5 Rujukan
Nasab[sunting | sunting sumber]

Beliau adalah al-Habib ‘Umar putera dari Muhammad putera dari Salim putera dari Hafiz putera dari Abd-Allah putera dari Abi Bakr putera dari‘Aidarous putera dari al-Hussain putera dari al-Shaikh Abi Bakr putera dari Salim putera dari ‘Abd-Allah putera dari ‘Abd-al-Rahman putera dari ‘Abd-Allah putera dari al-Shaikh ‘Abd-al-Rahman al-Saqqaf putera dari Muhammad Maula al-Daweela putera dari ‘Ali putera dari ‘Alawi putera dari al-Faqih al-Muqaddam Muhammad putera dari ‘Ali putera dari Muhammad Sahib al-Mirbat putera dari ‘Ali Khali‘ Qasam putera dari ‘Alawi putera dari Muhammad putera dari ‘Alawi putera dari ‘Ubaidallah putera dari al-Imam al-Muhajir to Allah Ahmad putera dari ‘Isa putera dari Muhammad putera dari ‘Ali al-‘Uraidi putera dari Ja'far al-Sadiq putera dari Muhammad al-Baqir putera dari ‘Ali Zain al-‘Abidin putera dari Hussain sang cucu laki-laki, putera dari pasangan ‘Ali putera dari Abu Talib dan Fatimah al-Zahra puteri dari Rasul Muhammad s.a.w.
Biografi[sunting | sunting sumber]





Beliau terlahir di Tarim, Hadramaut, salah satu kota tertua di Yaman yang menjadi sangat terkenal di seluruh dunia dengan berlimpahnya para ilmuwan dan para alim ulama yang dihasilkan kota ini selama berabad-abad. Beliau dibesarkan di dalam keluarga yang memiliki tradisi keilmuan Islam dan kejujuran moral dengan ayahnya yang adalah seorang pejuang martir yang terkenal, Sang Intelektual, Sang Da’i Besar, Muhammad bin Salim bin Hafiz bin Shaikh Abu Bakr bin Salim. Ayahnya adalah salah seorang ulama intelektual Islam yang mengabdikan hidup mereka demi penyebaran agama Islam dan pengajaran Hukum Suci serta aturan-aturan mulia dalam Islam. Beliau secara tragis diculik oleh kelompok komunis dan diperkirakan telah meninggal, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya. Demikian pula kedua kakek beliau, al-Habib Salim bin Hafiz dan al-Habib Hafiz bin Abd-Allah yang merupakan para intelektual Islam yang sangat dihormati kaum ulama dan intelektual Muslim pada masanya. Allah seakan menyiapkan kondisi-kondisi yang sesuai bagi al-Habib ‘Umar dalam hal hubungannya dengan para intelektual muslim disekitarnya serta kemuliaan yang muncul dari keluarganya sendiri dan dari lingkungan serta masyarakat dimana ia dibesarkan.

Beliau telah mampu menghafal Al Qur’an pada usia yang sangat muda dan ia juga menghafal berbagai teks inti dalam fiqh, hadith, Bahasa Arab dan berbagai ilmu-ilmu keagamaan yang membuatnya termasuk dalam lingkaran keilmuan yang dipegang teguh oleh begitu banyaknya ulama-ulama tradisional seperti Muhammad bin ‘Alawi bin Shihab dan al-Shaikh Fadl Baa Fadl serta para ulama lain yang mengajar di Ribat, Tarim yang terkenal itu. Maka beliau pun mempelajari berbagai ilmu termasuk ilmu-ilmu spiritual keagamaan dari ayahnya yang meninggal syahid, al-Habib Muhammad bin Salim, yang darinya didapatkan cinta dan perhatiannya yang mendalam pada da'wah dan bimbingan atau tuntunan keagamaan dengan cara Allah s.w.t. Ayahnya begitu memperhatikan sang ‘Umar kecil yang selalu berada di sisi ayahnya di dalam lingkaran ilmu dan dhikr.

Namun secara tragis, ketika al-Habib ‘Umar sedang menemani ayahnya untuk salat Jum‘ah, ayahnya diculik oleh golongan komunis, dan sang ‘Umar kecil sendirian pulang ke rumahnya dengan masih membawa syal milik ayahnya, dan sejak saat itu ayahnya tidak pernah terlihat lagi. Ini menyebabkan ‘Umar muda menganggap bahwa tanggung jawab untuk meneruskan pekerjaan yang dilakukan ayahnya dalam bidang Da‘wah sama seperti seakan-akan syal sang ayah menjadi bendera yang diberikan padanya pada masa kecil sebelum beliau mati syahid. Sejak itu, dengan sang bendera dikibarkannya tinggi-tinggi, ia memulai, secara bersemangat, perjalanan penuh perjuangan, mengumpulkan orang-orang, membentuk Majelis-majelis dan da’wah. Perjuangan dan usahanya yang keras demi melanjutkan pekerjaan ayahnya mulai membuahkan hasil. Kelas-kelas mulai dibuka bagi anak muda maupun orang tua di mesjid-mesjid setempat dimana ditawarkan berbagai kesempatan untuk menghafal Al Qur’an dan untuk belajar ilmu-ilmu tradisional.
Ia sesungguhnya telah benar-benar memahami Kitab Suci sehingga ia telah diberikan sesuatu yang khusus dari Allah meskipun usianya masih muda. Namun hal ini mulai mengakibatkan kekhawatiran akan keselamatannya dan akhirnya diputuskan beliau dikirim ke kota al-Bayda’ yang terletak di tempat yang disebut Yaman Utara yang menjadikannya jauh dari jangkauan mereka yang ingin mencelakai sang sayyid muda.

Disana dimulai babak penting baru dalam perkembangan beliau. Masuk sekolah Ribat di al-Bayda’ ia mulai belajar ilmu-ilmu tradisional dibawah bimbingan ahli dari yang Mulia al-Habib Muhammad bin ‘Abd-Allah al-Haddar, semoga Allah mengampuninya, dan juga dibawah bimbingan ulama mazhab Shafi‘i al-Habib Zain bin Sumait, semoga Allah melindunginya. Janji beliau terpenuhi ketika akhirnya ia ditunjuk sebagai seorang guru tak lama sesudahnya. Ia juga terus melanjutkan perjuangannya yang melelahkan dalam bidang Da‘wah.

Kali ini tempatnya adalah al-Bayda’ dan kota-kota serta desa-desa disekitarnya. Tiada satu pun yang terlewat dalam usahanya untuk mengenalkan kembali cinta kasih Allah dan Rasul-Nya s.a.w pada hati mereka seluruhnya. Kelas-kelas dan majelis didirikan, pengajaran dimulai dan orang-orang dibimbing. Usaha beliau yang demikian gigih menyebabkannya kekurangan tidur dan istirahat mulai menunjukkan hasil yang besar bagi mereka tersentuh dengan ajarannya, terutama para pemuda yang sebelumnya telah terjerumus dalam kehidupan yang kosong dan dangkal, namun kini telah mengalami perubahan mendalam hingga mereka sadar bahwa hidup memiliki tujuan, mereka bangga dengan indentitas baru mereka sebagai orang Islam, mengenakan sorban/selendang Islam dan mulai memusatkan perhatian mereka untuk meraih sifat-sifat luhur dan mulia dari Sang Rasul Pesuruh Allah s.a.w.

Sejak saat itu, sekelompok besar orang-orang yang telah dipengaruhi beliau mulai berkumpul mengelilingi beliau dan membantunya dalam perjuangan da‘wah maupun keteguhan beliau dalam mengajar di berbagai kota besar maupun kecil di Yaman Utara. Pada masa ini, beliau mulai mengunjungi banyak kota-kota maupun masyarakat diseluruh Yaman, mulai dari kota Ta'iz di utara, untuk belajar ilmu dari mufti Ta‘iz al-Habib Ibrahim bin Aqil bin Yahya yang mulai menunjukkan pada beliau perhatian dan cinta yang besar sebagaimana ia mendapatkan perlakuan yang sama dari Shaikh al-Habib Muhammad al-Haddar sehingga ia memberikan puterinya untuk dinikahi setelah menyaksikan bahwa dalam diri beliau terdapat sifat-sifat kejujuran dan kepintaran yang agung.

Tak lama setelah itu, beliau melakukan perjalanan melelahkan demi melakukan ibadah Haji di Mekkah dan untuk mengunjungi makam Rasul s.a.w di Madinah. Dalam perjalanannya ke Hijaz, beliau diberkahi kesempatan untuk mempelajari beberapa kitab dari para ulama terkenal disana, terutama dari al-Habib 'Abdul Qadir bin Ahmad al-Saqqaf yang menyaksikan bahwa di dalam diri ‘Umar muda, terdapat semangat pemuda yang penuh cinta kepada Allah dan Rasul-Nya s.a.w dan sungguh-sungguh tenggelam dalam penyebaran ilmu dan keadilan terhadap sesama umat manusia sehingga beliau dicintai al-Habib Abdul Qadir salah seorang guru besarnya. Begitu pula beliau diberkahi untuk menerima ilmu dan bimbingan dari kedua pilar keadilan di Hijaz, yakni al-Habib Ahmed Mashur al-Haddad dan al-Habib 'Attas al-Habashi.

Sejak itulah nama al-Habib Umar bin Hafiz mulai tersebar luas terutama dikarenakan kegigihan usaha beliau dalam menyerukan agama Islam dan memperbaharui ajaran-ajaran awal yang tradisional. Namun kepopuleran dan ketenaran yang besar ini tidak sedikitpun mengurangi usaha pengajaran beliau, bahkan sebaliknya, ini menjadikannya mendapatkan sumber tambahan dimana tujuan-tujuan mulia lainnya dapat dipertahankan. Tiada waktu yang terbuang sia-sia, setiap saat dipenuhi dengan mengingat Allah dalam berbagai manifestasinya, dan dalam berbagai situasi dan lokasi yang berbeda. Perhatiannya yang mendalam terhadap membangun keimanan terutama pada mereka yang berada didekatnya, telah menjadi salah satu dari perilaku beliau yang paling terlihat jelas sehingga membuat nama beliau tersebar luas bahkan hingga sampai ke Dunia Baru.

Negara Oman akan menjadi fase berikutnya dalam pergerakan menuju pembaharuan abad ke-15. Setelah menyambut baik undangan dari sekelompok Muslim yang memiliki hasrat dan keinginan menggebu untuk menerima manfaat dari ajarannya, beliau meninggalkan tanah kelahirannya dan tidak kembali hingga beberapa tahun kemudian. Bibit-bibit pengajaran dan kemuliaan juga ditanamkan di kota Shihr di Yaman timur, kota pertama yang disinggahinya ketika kembali ke Hadramaut, Yaman. Disana ajaran-ajaran beliau mulai tertanam dan diabadikan dengan pembangunan Ribat al-Mustafa. Ini merupakan titik balik utama dan dapat memberi tanda lebih dari satu jalan, dalam hal melengkapi aspek teoritis dari usaha ini dan menciptakan bukti-bukti kongkrit yang dapat mewakili pengajaran-pengajaran pada masa depan.

Kepulangannya ke Tarim menjadi tanda sebuah perubahan mendasar dari tahun-tahun yang ia habiskan untuk belajar, mengajar, membangun mental agamis orang-orang disekelilingnya, menyebarkan seruan dan menyerukan yang benar serta melarang yang salah. Dar-al-Mustafa menjadi hadiah beliau bagi dunia, dan di pesantren itu pulalah dunia diserukan. Dalam waktu yang dapat dikatakan demikian singkat, penduduk Tarim akan menyaksikan berkumpulnya pada murid dari berbagai daerah yang jauh bersatu di satu kota yang hampir terlupakan ketika masih dikuasai para pembangkang komunis. Murid-murid dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Kepulauan Comoro, Tanzania, Kenya, Mesir, Inggris, Pakistan, Amerika Serikat dan Kanada, juga negara-negara Arab lain dan negara bagian di Arab akan diawasi secara langsung oleh Habib Umar. Mereka ini akan menjadi perwakilan dan penerus dari apa yang kini telah menjadi perjuangan asli demi memperbaharui ajaran Islam tradisional di abad ke-15 setelah hari kebangkitan. Berdirinya berbagai institusi Islami serupa di Yaman dan di negara-negara lain dibawah manajemen al-Habib Umar akan menjadi sebuah tonggak utama dalam penyebaran Ilmu dan perilaku mulia serta menyediakan kesempatan bagi orang-orang awam yang kesempatan tersebut dahulunya telah dirampas dari mereka.

Habib ‘Umar kini tinggal di Tarim, Yaman dimana beliau mengawasi perkembangan di Dar al-Mustafa dan berbagai sekolah lain yang telah dibangun dibawah manajemen beliau. Beliau masih memegang peran aktif dalam penyebaran agama Islam, sedemikian aktifnya sehingga beliau meluangkan hampir sepanjang tahunnya mengunjungi berbagai negara di seluruh dunia demi melakukan kegiatan-kegiatan mulianya.
Karya[sunting | sunting sumber]

Disamping sebagai Da’i, Habib Umar juga penulis yang produktif. Karya-karyanya tidak sebatas ilmu Fiqih, beliau juga mengarang beberapa kitab tasawuf dan maulid. Kitab yang ditulis antara lain :
• Diyaul Lami ( Maulid Nabi Muhammad SAW )
• Dhakhira Musyarofah ( Fiqih )
• Muhtar Ahadits ( Hadits )
• Nurul Iman ( akidah )
• Durul Asas ( Nahwu )
• Khulasah Madani an-Nabawi ( zikir )
• Tsaghafatul Khatib ( pedoman Khutbah )


Wasiat dan Nasihat[sunting | sunting sumber]

· Penuhilah hatimu dengan kecintaan terhadap saudaramu niscaya akan menyempurnakan kekuranganmu dan mengangkat derajatmu di sisi Allah

· Barang siapa Semakin mengenal kepada Allah niscaya akan semakin takut.

· Barang siapa yang tidak mau duduk dengan orang beruntung, bagaimana mungkin ia akan beruntung dan barang siapa yang duduk dengan orang beruntung bagaimana mungkin ia tidak akan beruntung.
·
 Barang siapa menjadikan kematiaannya sebagai pertemuan dengan sang kekasih (Allah), maka kematian adalah hari raya baginya.

· Barang siapa percaya pada Risalah (terutusnya Rasulullah), maka ia akan mengabdi padanya. Dan barang siapa percaya pada risalah, maka ia akan menanggung (sabar) karenanya. Dan barang siapa yang membenarkan risalah, maka ia akan mengorbankan jiwa dan hartanya untuknya.

· Kedekatan seseorang dengan para nabi di hari kiamat menurut kadar perhatiannya terhadap dakwah ini.

· Betapa anehnya bumi, semuanya adalah pelajaran. Kukira tidak ada sejengkal tanah di muka bumi kecuali di situ ada ibrah (pelajaran) bagi orang yang berakal apabila mau mempelajarinya.

· Sebaik-baik nafsu adalah yang dilawan dan seburuk-buruk nafsu adalah yang diikuti.

· Tanpa menahan hawa nafsu maka manusia tidak akan sampai pada Tuhannya sama sekali dan kedekatan manusia terhadap Allah menurut kadar pembersihan jiwanya.

· Jikalau sebuah hati telah terbuka, maka akan mendapatkan apa yang diinginkan.

· Barang siapa yang mempunyai samudra ilmu kemudian kejatuhan setetes hawa nafsu, maka hawa nafsu itu akan merusak samudra tersebut.

· Sesaat dari saat-saat khidmat (pengabdian), lebih baik daripada melihat arsy dan seisinya seribu kali.

· Menyatunya seorang murid dengan gurunya merupakan permulaan di dalam menyatunya dengan Rasulullah SAW. Sedangkan menyatunya dengan Rasulullah SAW merupakan permulaan untuk fana pada Allah (lupa selain Allah)

· Manusia di setiap waktu senantiasa terdiri dari dua golongan, golongan yang diwajahnya terdapat tanda-tanda dari bekas sujud dan golongan yang di wajahnya terdapat tanda-tanda dari bekas keingkaran.

· Barang siapa yang menuntut keluhuran, maka tidak akan peduli terhadap pengorbanan.

· Sesungguhnya di dalam sujud terdapat hakikat yang apabila cahanya turun pada hati seorang hamba, maka hati tersebut akan sujud selama-lamanya dan tidak akan mengangkat dari sujudnya.

· Beliau RA berkata tentang dakwah, Yang wajib bagi kita yaitu harus menjadi da’i dan tidak harus menjadi qodli atau mufti (katakanlah wahai Muhammad SAW inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang jelas aku dan pengikutku) apakah kita ikut padanya (Rasulullah) atau tidak ikut padanya? Arti dakwah adalah memindahkan manusia dari kejelekan menuju kebaikan, dari kelalaian menuju ingat kepada Allah, dan dari keberpalingan kembali menuju kepada Allah, dan dari sifat yang buruk menuju sifat yang baik.

· Syetan itu mencari sahabat-sahabatnya dan Allah menjaga kekasih-kekasih-Nya.

· Apabila ibadah agung bagi seseorang maka ringanlah adat (kebiasaan) baginya dan apabila semakin agung nilai ibadah dalam hati seseorang maka akan keluarlah keagungan adat darinya.

· Bila benar keluarnya seseorang (di dalam berdakwah), maka ia akan naik ke derajat yang tinggi.

· Keluarkanlah rasa takut pada makhluk dari hatimu maka engkau akan tenang dengan rasa takut pada kholiq (pencipta) dan keluarkanlah berharap pada makhluk dari hatimu maka engkau akan merasakan kenikmatan dengan berharap pada Sang Kholiq.

· Banyak bergurau dan bercanda merupakan pertanda sepinya hati dari mengagungkan Allah dan tanda dari lemahnya iman.

· Hakikat tauhid adalah membaca Al Qur’an dengan merenungi artinya dan bangun malam.

· Tidak akan naik pada derajat yang tinggi kecuali dengan himmah (cita-cita yang kuat).

· Barang siapa memperhatikan waktu, maka ia akan selamat dari murka Allah.

· Salah satu dari penyebab turunnya bencana dan musibah adalah sedikitnya orang yang menangis di tengah malam.

· Orang yang selalu mempunyai hubungan dengan Allah, Allah akan memenuhi hatinya dengan rahmat di setiap waktu.


Salam Perjuangan,
Nur'Ain Vivian

Monday, December 2, 2013

MERAWAT DIRI DENGAN AMALAN RUQYAH SYARIYYAH

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.Salam sejahtera buat teman-teman ain kasihi.Semoga senantiasa dalam Rahmat Allah SWT.Semoga sentiasa dalam lindungan NYA, aamiin.

Setiap perbuatan, perlakuan atau pekerjaan kita lakukan perlukan keyakinan, iaitu rasa YAKIN akan KEKUASAAN ALLAH SWT.

Tiada suatu apapun pekerjaan yang kita lakukan walau niat kerana Allah sekalipun, namun tanpa keyakinan, tanpa kesedaran, tanpa kefahaman, maka amalan itu hanyalah sia-sia.Tiadanya keikhlasan dalam beramal, maka kosonglah amalan itu.

Begitu juga dalam merawat diri, tidak kiralah merawat diri dari masalah gangguan makhluk halus, penyakit misteri, penyakit moden misalan kanser, darah tinggi, sakit jantung, penyakit mental dan sebagainya. Semua ini memerlukan perkara-perkara yang ain sebutkan sebentar tadi.

Dalam beramal perlu ada ilmu, nak sihat perlu ada ilmu, perlunya keyakinan, perlunya kefahaman, perlunya kesedaran.

Dalam suatu situasi apabila kita merasa tidak sihat, jatuh sakit, sudah pasti perkara pertama yang bermain di minda adalah ingin berjumpa dengan doktor atau mencari ubat yang bersesuaian dengan penyakit yang dihidapi.Jarang sekali di minda kita mengingati Allah SWT, jarang sekali kita menadah tangan, menundukkan diri sebagai hamba meminta diberikan kesembuhan dari Yang Maha Kuasa.Jarang sekali...

Hanya di saat-saat kritikal, atau di saat sudah berhabis ikhtiar barulah Allah yang dicari.Itulah lumrah seorang manusia.Sering alpa dan leka sebagai seorang hamba. Diri ini juga tidak terlepas sebegitu.

Astaghfirullahal azim... Kami memohon ampun, taubat kepada Mu Ya Allah..

Sabda Nabi Muhammad SAW :

"Sebaik-baik ubat adalah Al Quran."
[Riwayat At Tirmizi]

Sabda Nabi lagi:

"Hendaklah kamu melakukan 2 kesembuhan ; Madu dan Al Quran." 
[Riwayat Ibn Majah]

Di dalam Al-Quran ada dinyatakan dalam firman NYA dalam surah Al Isra ayat 82 ;

"Dan kami turunkan dengan beransur-ansur dari Al Quran ayat-ayat suci yang menjadi ubat penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman kepadaNYA."

SubhanAllah Alhamdulillah Allahuakhbar

Hebatnya Allah SWT yang telah menghadiahkan kita dengan ayat-ayat Al Quran, bukan sekadar panduan, malah untuk tujuan kesembuhan.Di dalam Al Quran itu sendiri adanya ubat, ayat-ayat penawar bagi setiap jenis penyakit, insyaAllah. Semuanya dengan izin NYA.

Ingin berkongsi kisah seorang sahabat yang ain kenali baru-baru ini.Beliau disahkan kanser dan telah pun menjalani rawatan seperti yang biasa kita dengari.Ain berkongsi secara ringkas kisah beliau yea, moga-moga ada iktibar yang boleh kita perolehi.

Di saat beliau disahkan mengidap penyakit kanser, semangat juang dalam dirinya goyah.Seperti kebanyakkan pesakit kanser lain, dalam fikiran mereka sudah pasti tiada ubat yang dapat merawat atau menyembuhkan, jalan akhir yang difikirkan adalah kematian.

Mengimbas kembali pengalaman lalu sebagai seorang jururawat dan ditugaskan di wad yang sering menerima pesakit yang disahkan kanser dan memerlukan pembedahan, emosi para pesakit ini kebanyakkannya tidak stabil dan tahap kesihatan mereka juga sangat lemah.

Berbeza dengan sahabat yang ain ceritakan ini.Alhamdulillah dengan izin Allah SWT, beliau dipertemukan dengan insan-insan yang tidak pernah lokek berkongsi ilmu amalan rawatan pengubatan Islam menggunakan ayat-ayat suci Al Quran.

Bermula dengan pengambilan makanan sunnah, seterusnya pengenalan kepada amalan perubatan berasaskan Ruqyah Syariyyah iaitu ayat-ayat Al Quran, ayat-ayat kesembuhan.

Dari situ dapat dilihat perkembangan positif beliau di mana beliau semakin positif dalam usaha merawat diri, malah keyakinan serta kebergantungan beliau akan kekuasaan Allah SWT yang Maha Menyembuhkan semakin meningkat.Beliau masih meneruskan rawatan hospital seperti yang dicadangkan, namun sama sekali tidak meninggalkan amalan makanan sunnah serta yang paling utama rawatan menggunakan ayat-ayat Al Quran.Alhamdulillah kini beliau kelihatan sihat, malah lebih cergas berbanding sebelumnya.

Kisah di atas adalah salah satu contoh yang boleh kita jadikan iktibar.Merawat diri dengan menyerahkan segala urusan, proses kesembuhan pada Allah SWT.

Buat makluman sahabat, apa ain ingin kongsikan ini, insyaAllah semoga ada pengisian dan manfaat yang boleh dijadikan pedoman bersama.Dari pengalaman ain sendiri pula, alhamdulillah atas izin Allah SWT, diri ini diberi ujian sakit dan dalam masa yang sama Allah tunjukkan jalan untuk kesembuhan, iaitu dengan menjadikan ayat-ayat suci Al Quran sebagai proses rawatan yang utama.Menjadikan Allah SWT sebagai tujuan utama dalam setiap perkara kehidupan.

Berkenalan dengan insan-insan hebat dan istimewa, semuanya atas izin Allah SWT.Alhamdulillah Allah berikan sakit, Allah berikan juga penawarnya.

Agak sukar untuk dijelaskan, namun apa yang ain lalui ini sudah memakan tahun namun detik ain memulakan rawatan diri dengan sebenarnya adalah semenjak setahun yang lalu.Alhamdulillah Allah beri izin agar hati ini berlapang dada dalam memulakan langkah merawat diri ini.

Sejak memeluk Islam, dan hingga kini, ain seorang yang tidak mudah untuk menerima rawatan atau lebih mudah dalam bahasa masyarakat Melayu Islam, tidak mudah 'berubat' dengan sesiapa tanpa diyakini dari mana datang ilmunya itu.Walau masyarakat sekitar mengiyakan kebolehan atau kehebatan seseorang perawat, diri ini tidak mudah tergoda dengan janji-janji manis yang dicanangkan.

Mengimbas kembali keadaan diri dahulu dan kini.Walau sakit yang dialami tidaklah sehebat sahabat-sahabat lain di mana ada diantara kisahnya yang pernah melalui detik nazak, namun kini sahabat ini pulih sepenuhnya.

SubhanAllah Alhamdulillah Allahuakhbar

Maha Suci Allah atas kekuasaan NYA...

Apa yang ain ingin cuba sampaikan, tekankan di sini adalah.Dalam memulakan sesuatu rawatan diri tidak kiralah penyakit fizikal atau mistik sekalipun, perkara UTAMA yang perlu menyinggah pada diri kita adalah;

~adakah rawatan itu berlandaskan syariat Islam atau tidak dan 
~adakah rawatan itu boleh mengakibatkan akidah kita terpesong atau sebaliknya.

KUNCI UTAMA dalam proses kesembuhan adalah

~KEYAKINAN
~KEFAHAMAN
~KESEDARAN
~KEIKHLASAN
~KESUNGGUHAN
~RASA RENDAH DIRI SEBAGAI SEORANG HAMBA ALLAH SWT

Tidak kiralah rawatan menggunakan teknologi moden atau Islam sekalipun, apabila semua perkara di atas dititikberatkan, insyaAllah Allah akan berikan kesembuhan sesuai dengan usaha hamba itu sendiri dalam proses merawat diri sendiri.

Buat sahabat ain kasihi di luar sana yang sedang membaca nurkilan ini, andai ada diantara sahabat yang sedang mengalami sebarang jenis penyakit tidak kiralah penyakit ringan atau berat, telah memulakan rawatan hospital dan sebagainya, teruskanlah usaha sahabat namun dalam masa yang sama kita perbaiki niat dan nawaitu kita dalam usaha, proses penyembuhan.

Allah berikan kita penyakit bukan dengan sia-sia, Allah hadiahkan kita kesakitan bukan dengan sia-sia, Allah berikan nikmat sakit bukan dengan sia-sia.Ingatlah sahabat, ingatan buat diri ni, setiap sesuatu yang berlaku itu bukanlah dengan sia-sia.

Dari kesakitan itulah, Allah uji kita dari segi pergantungan kita pada NYA dengan sebenar-benarnya.Dari ujian itulah Allah ingin lihat sejauh mana kesungguhan seseorang hamba itu merawat diri dengan sepenuhnya dan sebenar-benar yakin akan kekuasaan NYA.Dan dari ujian ini juga, diri kita diuji sebagai seorang hamba.

Allahuakhbar...

Di sini ain ingin mengajak sahabat semua sama-sama kembali merawat diri dengan mendekati Al Quran.Gunakan ayat-ayat Al Quran, KALAMULLAH sebagai rawatan terapi yang utama selain rawatan tambahan yang lain menggunakan kaedah perubatan moden.

Kehebatan Al Quran tidak boleh disangkal lagi, malah dapat dilihat masyarakat Islam kini mulai sedar ada benarnya rawatan Islam mampu dan berkesan memulihkan penyakit kronik berbanding dengan rawatan moden.Semuanya dengan izin Allah SWT.

Berikut adalah beberapa amalan yang boleh sahabat lakukan sedikit demi sedikit namun konsisten [istiqamah]. Usah kelam-kabut, atau merasa tertekan kerana ain sendiri bermula dari bawah.


  • amalkan bacaan surah Al Baqarah selama 3 hari berturut-turut, sebaik-baiknya dilakukan sekali setiap bulan.
  • amalkan bacaan surah Yassin setiap pagi dan petang atau sekali sekurang-kurangnya setiap hari.
  • lazimkan diri membaca surah Ayatul Kursi, Al Muawwizat iaitu 3 Qul [Surah Al Ikhlas, Al Falaq, An Naas] setiap kali selesai solat Fardhu dan sebelum tidur.
  • amalkan terapi mandi ais dan garam yang telah diruqyahkan 
  • sentiasa berwudhu walau bukan di waktu solat
  • amalkan terapi menggunakan minyak wangi yang telah diruqyahkan pada 32 'point' tubuh badan
  • berbekam mengikut tarikh sunnah
  • mulakan amalan pemakanan sunnah pada diri dan keluarga
  • amalan zikir yang khusus misalnya Ratib Al Hadad, Al Mathurat dan sebagainya mengikut kemampuan diri
  • membaca Al Quran setiap hari tanpa mengira waktu
  • lazimkan diri dengan amalan membaca ayat Ruqyah Syariyyah atau ayat-ayat kesembuhan dari Al Quran, sebaik-baiknya 2 kali sehari atau sekali setiap hari.
Ini adalah sebahagian yang mampu ain kongsikan bersama sahabat semua.Secara ringkasnya, amalan ini bertujuan sebagai pendinding diri, malah dalam masa yang sama membantu kesembuhan penyakit fizikal yang lain sama ada dalam keadaan kita sedar atau tidak.


Salah satu masalah kesihatan yang ain alami sejak remaja hingga kini adalah masalah sakit tulang belakang.Alhamdulillah setelah mengamalkan ruqyah syariyyah, sakit tulang belakang ain sembuh sepenuhnya.SubhanAllah Alhamdulillah.. semuanya dengan izin Allah SWT.

Selain masalah tulang belakang, penyakit-penyakit lain yang ain sendiri tidak sedar atau tanpa sedar telah lama ada dalam diri ini turut mengalami kesan.Sedikit demi sedikit Allah tunjukkan, sedikit demi sedikit Allah berikan kefahaman dan kesedaran.

SubhanAllah SubhanAllah SubhanAllah...

Buat sahabat yang mencari panduan bacaan Ruqyah Syariyyah berlandaskan Al-Quran dan Sunnah, di sini ain kongsikan buku panduan yang telah ditulis sendiri oleh Ustaz Hayat Kiswah , Pengerusi Pertubuhan Pengamal Pengubatan Islam Ruqyah Syariyyah Malaysia [KISWAH].



 


Di sini pula adalah cd bacaan ruqyah Syariyyah yang boleh diperdengarkan seharian di rumah bersama keluarga :




Sahabat boleh terus ke link KISWAH untuk info terkini berkenaan perubatan Islam dan bagi sahabat-sahabat yang berhajat untuk mendapatkan Handbook Ruqyah Syariyyah dan CD tersebut, boleh emailkan pada ain di nurainvivian@gmail.com yea.

Atau bagi sahabat yang ingin berkongsi pandangan atau pendapat boleh emailkan juga di alamat ain berikan tadi, insyaAllah.

Buat sahabat yang ingin turut serta dalam majlis bacaan Ruqyah Syariyyah secara berjemaah, ain berbesar hati menjemput sahabat bersama ain dan sahabat di sini dalam majlis bacaan mingguan di sekitar Muar, Johor.



Gambar di atas adalah salah satu majlis bacaan Ruqyah Syariyyah mingguan dan Ratib Al Hadad di kedai sahabat ain Perniagaan Indah Syariat di sekitar Muar Johor. Muslimin dan muslimat dijemput hadir.

Tiada bayaran dikenakan. Hanya keikhlasan dan kesungguhan anda sahaja diperlukan dalam beramal, insyaAllah.Buang rasa ego dalam diri, dan tunduklah sebagai seorang hamba Allah SWT.

Buat sahabat ain kasihi, jadikan matlamat, niat dan apa sahaja perkara kehidupan, nawaitu tumpuan kita hanya kerana Allah SWT.

Rata-rata masyarakat Islam khususnya, yang kita dapat lihat kini mereka lebih yakin kesembuhan itu datang daripada perawat/ustaz/kiyai/alim ulama lebih dari mempercayai yang menyembuhkan adalah Allah SWT.

Sememangnya benar doa para alim ulama/kiyai/ustaz itu mustajab dan dekat dengan Allah SWT, namun akar tunjangnya, datang dari kesungguhan, keikhlasan dari diri kita sendiri.

Ingatkan pada diri bahawa yang memberikan kesembuhan adalah Allah SWT.Kita sakit atas izin Allah, kita pulih juga atas izin Allah SWT.Semuanya perlu dalam redha Allah.

InsyaAllah setakat ini sahaja yang mampu ain nurkilkan.InsyaAllah ada kelapangan kita bertemu lagi di coretan akan datang.

Semoga coretan ini bermanfaat buat semua.Mohon maaf andai sepanjang perkongsian ini ain ada melukakan hati sahabat.Sesungguhnya diri ini hamba yang lemah, lagi hina.Masih berusaha menjadi hamba Allah yang sebenar-benarnya.

ALLAH BERSAMAKU...
ALLAH MELIHATKU...
ALLAH MEYAKSIKANKU...

Salam Perjuangan,
Nur'Ain Vivian



Sunday, November 3, 2013

HIKMAH TAKDIR

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, salam sejahtera buat sahabat ain kasihi sekalian.

Alhamdulillah diberi kesempatan dan kelapangan untuk meluangkan waktu membuat coretan kecil di sini.Moga-moga ada pengisian dan manfaat yang dapat diperoleh bersama, insyaAllah.

2003 dan kini kita sudah menghampiri penghujung 2013.Pejam celik sudah 10 tahun lebih berlalu semenjak ain kembali pada Islam.

SubhanAllah Alhamdulillah Allahuakhbar, begitu pantas waktu berlalu.

Bagi sahabat yang mengikuti blog ain semenjak awal hingga kini pasti dapat melihat perjalanan kehidupan ain semenjak dulu hingga kini.

Apapun yang berlaku sebelum ini, pahit manis, jatuh bangun, perit payah yang berlalu, semuanya sudah termaktub dalam kamus kehidupan.Semuanya sudah tercatit dalam takdir kehidupan seseorang.Usah ditangisi, diratapi apa yang telah berlalu.Semuanya dalam rahsia [pengetahuan] Allah SWT, tak tercapai oleh akal fikiran seseorang manusia.

Masih terngiang-ngiang kata-kata Ustaz Imran, mudir madrasah yang ain duduki sekarang ini.

Dunia adalah penjara bagi orang mukmin, namun syurga adalah tempat kekal yang abadi, tempat bersenang-lenang bagi orang mukmin.Dunia ini adalah kesenangan sementara bagi orang kafir namun neraka adalah singgahsananya yang terakhir.

SubhanAllah Alhamdulillah Allahuakhbar.

Betapa beruntungnya kita menjadi umat Nabi Muhammmad SAW dan betapa beruntungnya kita dikurniakan nikmat Islam, nikmat kalimah tauhid, nikmat Allah Yang Satu, tiada yang lain selain Allah SWT.

Mengenang kembali masa lalu, masa kini, pelbagai rencah kehidupan dilalui yang adakala mengundang air mata.

Namun dengan berlalunya masa, berlalunya waktu, pasti kita dapat melihat hikmah takdir yang telah Allah SWT aturkan, tetapkan.Ain pasti sahabat-sahabat ain juga begitu.

Buat sahabat yang dalam persimpangan kehidupan, yang merasakan kehidupannya senantiasa terumbang-ambing, yang senantiasa merasakan serba tidak kena dengan hidupnya sejak dulu hingga kini.Moga sedikit tips yang tidak seberapa ini dapat membantu, insyaAllah.





Renungi kelemahan, kekurangan dan kekhilafan diri antara sedar mahupun tidak. Boleh jadi ada kekurangan diri yang tidak kita sedari. Muhasabah diri dan senantiasa berusaha memperbaiki kelemahan yang ada, insyaAllah Allah bagi mudah.

Usah mencari-cari keburukan, kelemahan atau keaiban orang lain.Pandanglah aib diri sendiri, sibukkanlah dengan memperbaiki diri sendiri. InsyaAllah apabila kita sibuk memperbaiki diri sendiri, kita takkan mempunyai masa atau berasa sakit hati atau tertekan dengan orang-orang disekeliling kita.

Setiap ujian/musibah yang menimpa diri ada hikmahnya.Ingatilah seperkara wahai teman, sahabat ain kasihi.Allah SWT menguji hamba NYA kerana Allah sayangkan kita kerana itu diri kita diuji.Allah ingin tingkatkan lagi darjat kita dikalangan hamba-hamba NYA yang soleh solehah, insyaAllah. Hadapilah ia sebaik yang mungkin dengan sabar dan cekal, insyaAllah ada ganjaran yang menanti buat kita kelak.

Tidak semua ujian itu memeritkan kerana disebalik keperitan itu ada kesenangan yang menanti.Tidak semua ujian itu menyakitkan kerana ada kemanisan yang menanti.InsyaAllah Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Maha Mengetahui.Allah SWT tidak menzalimi hamba-hamba NYA melainkan kita yang menzalimi diri sendiri.




Perbaiki amalan harian sedikit demi sedikit namun biarlah konsisten, istiqamah.Usah terburu-buru, beramallah dengan kefahaman, kecintaan pada Allah SWT dan Nabi junjungan Nabi Muhammad SAW.

Sibukkanlah diri dengan bacaan ayat-ayat suci Al-Quran di waktu pagi dan petang, mahupun di waktu terluang dan bukannya waktu tertentu sahaja.Bacalah walau hanya semuka atau sehelai muka surat sekalipun.Lazimkan diri dengan bacaan Al-Quran kerana di dalamnya ada banyak fadhilat menanti buat para pengamalnya.

Apabila kita ingin bercakap dengan Allah, solatlah.Apabila kita ingin Allah bercakap dengan kita, maka bacalah Al-Quran.Mudahkan...

Mulakan sedikit demi sedikit amalan zikir harian secara konsisten serta istiqamah.Mungkin agak payah bagi yang jarang atau kadang-kadang melakukannya, namun berkat azam dan tekad, insyaAllah semakin Allah mudahkan urusan kita.Antara zikir amalan yang boleh sahabat mulakan adalah bacaan Al-Mathurat di waktu pagi dan petang.

Mulakan sedikit demi sedikit dan konsisten.Apabila sudah mampu istiqamah, mulakan dengan amalan zikir yang lain misalannya Ratib Al-Hadad dan sebagainya selagi mana ianya berlandaskan Al-Quran dan Sunnah.

Pada hari kiamat kelak, ada 4 perkara yang Allah SWT akan tanyakan pada kita, iaitu :

  • Umur : di mana ia dihabiskan
  • Masa muda: untuk apa ia dihabiskan
  • Harta : dari mana dan untuk apa ia dihabiskan
  • Ilmu : ilmu yang diperoleh dan ke mana ia dimanfaatkan
ILMU adalah antara perkara yang akan disoal Allah SWT kepada setiap hamba NYA yang mengaku Islam, yang mengaku Allah Yang Satu.


Carilah ilmu selagi mampu, carilah guru-guru yang alim ilmu agamanya dan bukan hanya mencari ilmu di depan screen semata-mata.InsyaAllah ilmu yang diberkati adalah dengan berguru.

Dekatlah diri dengan orang-orang alim, ambil iktibar, ilmu dan kebaikkan daripada mereka yang alim ilmunya sebagai pedoman hidup kita di dunia mahupun akhirat.

Hadirkanlah diri dalam majlis-majlis ilmu, majlis zikir kerana di dalam majlis zikir itu adanya para malaikat rahmat yang akan mendoakan kita, insyaAllah.Sesungguhnya majlis ilmu adalah majlis yang paling disukai oleh Allah SWT. Hadirilah majlis ilmu yang didalamnya penuh keberkatan.

Ilmu kita sungguh terbatas jika dibandingkan dengan ilmu Allah SWT yang begitu luas.Takdir Allah pada seseorang hamba itu pada pandangan kasar kelihatan samar-samar seolah-olah tiada penghujungnya.

Namun yakinilah, percayalah bahawa ada hikmah di sebalik takdir atau ketetapan Allah SWT pada kita semua hamba NYA di muka bumi ini.Bersangka baiklah pada Allah SWT yang Maha Agung lagi Maha Kuasa.

Allah SWT tidak menciptakan kita dengan sia-sia.Setiap daripada kita ada tugas atau amanah yang telah dipertanggungjawabkan,

Sentiasa merasa cukup dan banyakkan rasa syukur dalam diri sendiri. Dengan adanya rasa cukup dan syukur pada diri, segala perkara yang kelihatan sukar menjadi mudah, yang sempit menjadi lapang, yang mustahil menjadi kenyataan.Walau bebanan berat setinggi gunung sekalipun akan kelihatan kecil dan menjadi ringan andai kita yakin dan syukur akan takdir Allah SWT.

Buang sifat suka meminta-minta pada makhluk.Tanamkan sifat hanya meminta pada yang Khaliq, pada Allah SWT semata-mata dan bukan selain NYA.Inilah perkara PENTING, perkara POKOK yang perlu kita sedar dan tanamkan dalam diri kita dalam setiap perkara kehidupan.Inilah yang ain baru sedar dan alhamdulillah Allah berikan ujian buat diri ini untuk sedar dan terus sedar dari buaian mimpi selama ini.

Ingin ain kongsikan kata-kata nurkilan seorang sahabat :

"Ya Allah aku belum nampak lagi kebaikkan takdir MU kini, tetapi aku pasti ketentuan Mu pasti ada kebaikkannya."

Allahuakhbar Allahuakhbar Allahuakhbar

Pasti, takdir Allah adalah yang terbaik dan ada hikmahnya.

Alhamdulillah setakat ini sahaja yea sahabat semua buat masa ini.Ingin lagi rasanya berkongsi coretan bersama.InsyaAllah di lain waktu dengan izin NYA kita bertemu lagi.

Semoga apa yang dicoretkan ini ada manfaatnya buat yang membaca, terutamanya diri ain yang lemah lagi hina ini.

Mohon ampun maaf andai ada terkasar bahasa atau tersilap tulisan sepanjang perkongsian ain di sini.

"ALLAH BERSAMAKU... ALLAH MELIHATKU... ALLAH MENYAKSIKANKU..."





Salam Perjuangan,
Nur'Ain Vivian


Saturday, September 14, 2013

RATIB AL HADAD

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ingin sekali ain kongsikan bersama sahabat semua salah satu bacaan wirid atau zikir yang dikenali dengan nama Ratib Al-Hadad.

Artikel berkenaan wirid ini diperoleh dari page Pondok Habib .
Dicoretkan di blog ini sebagai nota ingatan dan rujukkan bersama.

Secara peribadi, setelah diteliti susunan wirid di dalam bingkisan buku kecil ini, ianya adalah berdasarkan bacaan dari Al-Quran, Hadis dan Sunnah Rasulullah SAW.

Moga perkongsian ini bermanfaat, insyaAllah.




Sedikit perkongsian yang diperoleh dari page PONDOK HABIB

Ratib Al-Haddad – Dari Yaman ke Dunia Melayu

Oleh: Wan Mohd. Shaghir Abdullah

SEKURANG-KURANGNYA ada dua jenis “wirid” atau disebut juga dengan “Ratib” yang sangat berpengaruh di kalangan orang-orang Arab, terutama golongan “Habaib” (Habib-Habib atau Saiyid/Syed) yang datang ke dunia Melayu. Yang pertama disebut “Ratib Al-Haddad” dan yang satu lagi dinamakan “Ratib Al-Attas”. Sebahagian besar yang diketahui oleh para pengamalnya, “Ratib Al-Haddad” ialah satu amalan yang dapat menenangkan jiwa, penuh berkat, terdapat beberapa fadhilat yang kadang-kadang menyalahi adat. Wirid atau ratib yang tersebut adalah disusun berdasarkan ayat-ayat al-Quran, doa, selawat, istighfar, dan sejenisnya. Yang pertama mengamalkannya ialah Al-Quthub al-Ghauts al-Habib as-Saiyid ‘Abdullah bin ‘Alawi bin Muhammad al-Haddad Ba’alawi al-Huseini al-Hadhrami asy-Syafi’ie. Ulama besar keturunan Nabi Muhammad S.A.W ini dilahirkan di Tarim, Yaman, pada 5 Safar 1044 H/30 Julai 1634 M dan wafat pada 7 Zulqa’idah 1132 H/10 September 1720 M.

Artikel ini bukan menceritakan riwayat hidup ulama yang tersebut tetapi adalah lebih memperkenalkan satu-satunya manuskrip bahasa Melayu yang membahas secara mendalam tentang “Ratib Al-Haddad”. Perlu saya sebutkan di sini bahawa hingga kini belum dijumpai “Ratib Al-Haddad” bahasan yang mendalam sepertinya dalam bentuk cetakan bahasa Melayu. Sungguh pun demikian, belum begitu lama, terdapat yang diusahakan oleh Syed Ahmad bin Muhammad bin Zain bin Semit cetakan yang ditulis dalam bahasa Arab, cetakan yang kedua Zulhijjah 1417 H/1997 M, diterbitkan oleh Pustaka Nasional Singapura. Manuskrip yang dalam bahasa Melayu diselesaikan pada hari Ahad, jam 4.00 petang, bulan 24 Syawal 1224 H/2 Disember 1809 M. Disalin kembali tahun 1317 H/1899 M. Judul lengkap manuskrip dalam bahasa Arab “Sabil al-Hidayah wa ar-Rasyad fi Syarh ar-Ratib al-Haddad”. Judul terjemahan dalam bahasa Melayu “Jalan Pertunjuk dan Pengajaran Pada Menyatakan Faedah Kelebihan Quthub Bangsa Haddad”. Karangan asal dalam bahasa Arab dilakukan oleh keturunan ulama tersebut, beliau ialah Habib ‘Alawi bin Ahmad bin al-Hasan bin ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad. Nama penterjemah dari bahasa Arab ke bahasa Melayu tidak dinyatakan, kemungkinan adalah diterjemahkan oleh yang mengaku pemiliknya bernama Ahmad Salim ibnu al-Marhum Syeikh Mat Juban Pontianak, Kampung Melayu.
Selain yang diberi judul di atas terdapat lagi manuskrip dalam bahasa Melayu, tetapi bahasan kandungannya berbeza, ialah “Kaifiyat Qiraat ar-Ratib al-Haddad”. Judul ini diterjemah oleh Saiyid Ahmad bin Muhammad al-’Aidrus, tidak terdapat tarikh selesai penterjemahan. Manuskrip ini bekas dimiliki oleh Ahmad bin ‘Abdullah bin Qadhi. Manuskrip “Kaifiyat Qiraat ar-Ratib al-Haddad” lebih bercorak cara-cara mengamalkan ratib, tanpa mengemukakan dalil. Sedang “Sabil al-Hidayah wa ar-Rasyad” (manuskrip yang pertama) secara garis besar kandungannya ialah lebih mengutamakan dalil-dalil al-Quran dan hadis lebih lengkap untuk membuktikan bahawa amalan yang diajar oleh Quthub al-Ghauts al-Habib as-Saiyid ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad adalah tidak menyimpang dari ajaran Islam yang diajarkan oleh datuk nenek beliau, iaitu Nabi Muhammad S.A.W. Jika kita membuat perbandingan kandungan yang terperinci antara manuskrip bahasa Melayu dengan yang bahasa Arab cetakan Pustaka Nasional Singapura ternyata ada beberapa perkara yang dibicarakan dalam manuskrip Melayu tidak terdapat dalam yang bahasa Arab. Demikian juga sebaliknya.

Dalam manuskrip yang bahasa Melayu dicatatkan tulisan Saiyid ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad dalam “Kitab Manaqib”, kata beliau, “Barangsiapa orang yang membiasakan atas ratib kami, nescaya dikurniai [oleh] Allah Ta’ala akan dia sebaik-baik kesudahan mati di dalam kalimah … “. Yang dimaksudkan di sini ialah mati dalam agama Islam dan beriman. Sebagaimana terdapat pada salah satu doa dalam ratib, yang terjemahannya “… matikan kami dalam agama Islam”. Doa ini pula ada hubungkait dengan doa dalam ratib juga, yang maksudnya, “Kami semata-mata ridha terhadap Allah, tuhan kami, kami suka agama Islam, adalah agama kami dan Nabi Muhammad S.A.W, Nabi kami”. Terhadap Allah, Islam dan Nabi adalah sangat ditekankan dalam ilmu ‘aqidah supaya beri’tiqad dengan jazam dan betul. Perlulah diperhatikan, kerana sewaktu kita masuk kubur yang tersebut adalah pertama-tama perkara yang ditanya. Selain fadhilah untuk menghadapi sakarat al-maut, beliau sebut juga bahawa “Ratib al-Haddad” berfungsi “Dipeliharakan [oleh] Allah Ta’ala daripada terbakar, dan kecurian, dan tiada terbunuh orang akan dia … Ratib ini dibaca tiap-tiap ditimpa dukacita, nescaya diberi [oleh] Allah kesukaan”. Semua yang diriwayatkan bahawa bacaan-bacaan dalam ratib ada hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam hadits shahih.

Sebagai bukti “Ratib al-Haddad” sangat berpengaruh, dalam rangka “Majlis Haul Habib as-Saiyid ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad”, telah diadakan perhimpunan acara membaca ratib tersebut di Masjid Baitul Aman, di Jalan Damai, Kuala Lumpur, pada malam Sabtu 1 Zulqa’idah 1426 H/3 Disember 2005 M. Yang hadir selain dari seluruh Malaysia, ramai pula yang datang dari Singapura, Brunei Darussalam, Indonesia, India, Yaman, dan negara-negara lainnya. Acara diteruskan ke Batu Pahat (Johor), Temerloh (Pahang) dan Singapura. Selain membaca “Ratib al-Haddad” juga diadakan ceramah yang khusus membicarakan kehebatan dan jasa-jasa besar Saiyid ‘Abdullah bin ‘Alawi al-Haddad dalam penyebaran Islam. Karya-karya beliau telah diterjemahkan ke pelbagai bahasa dan tersebar di seluruh dunia.


Sekilas tentang riwayat hidup Penyusun Ratib al-haddad

Beliau adalah Habib Abdullah bin Alwi bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah bin Muhammad bin Alwi bin Ahmad bin Abu Bakar bin Ahmad bin Muhammad bin Abdullah bin al-Faqih Ahmad bin Abdurrahman bin Alwi bin Muhammad Shahibu Marbath bin Ali Khali` Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali al-Uraidhi bin Ja`far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, suami Fathimah az-Zahra binti Rasulillah saw.

Nama penyusun Ratib al-Haddad ini sudah akrab di telinga masyarakat Islam Indonesia, Malaysia, India, Pakistan dan negara-negara Islam di Timur Tengah. Beliau dikenal karena karya tulis serta wirid-wirid dan dzikir-dzikir yang disusunnya sekitar empat abad yang lalu, sudah diamalkan oleh masyarakat Islam secara luas.

Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad dilahirkan pada tanggal 5 Shafar 1044 H, di pinggiran kota Tarim yang bernama Subair. Dalam kitab Tastbitul Fuad disebutkan bahwa ketika beliau dilahirkan, salah seorang wanita tetangganya membungkus beliau dengan pakaian ayahnya. Di malam itu, habib Abdullah tidak berhenti menangis dan menjerit-jerit hingga pagi hari. Ibunya kemudian memerintahkan kepada salah seorang wanita yang berada di rumahnya untuk memeriksa Habib Abdullah. Wanita tersebut kemudian membuka pakaian yang membungkus Habib Abdullah. Ternyata, di dalam pakaian yang membungkus Habib Abdullah terdapat seekor kalajengking besar yang telah menyengat badan Habib Abdullah .

Ayahnya, Habib Alwi bin Muhammad adalah seorang yang shalih dari keturunan orang-orang yang shalih. Dimasa mudanya, beliau sempat berkunjung ke kediaman Habib Ahmad bin Muhammad al-Habsyi Shahibusy Syi`ib untuk meminta doa. Habib Ahmad berkata kepadanya, “..anak-anakmu adalah anak-anakku juga, mereka diberkahi Allah.” Saat itu Habib Alwi tidak mengerti akan maksud ucapan Habib Ahmad. Namun, setelah menikahi Salma, cucu dari Habib Ahmad, beliau baru sadar bahwa doa Habib Ahmad adalah sebuah isyarat perkawinannya.

Sebagaimana Habib Alwi, Salma juga merupakan seorang wanita yang shalihah dari keturunan orang-orang yang shalih pula. Dari istrinya inilah Habib Alwi mendapat putra-putri yang baik dan shalih pula, diantaranya adalah Habib Abdullah.

Masa Kecil Habib Abdullah:

Ketika Habib Abdullah berusia 4 tahun, beliau terserang penyakit cacar yang begitu hebatnya hingga membutakan kedua matanya. Namun, musibah ini sama sekali tidak mengurangi semangatnya dalam menuntut ilmu. Ia berhasil menghafal al-Qur`an dan menguasai berbagai ilmu agama ketika usianya masih kanak-kanak. Rupanya Allah swt berkenan menggantikan pengelihatan lahirnya dengan pengelihatan batin, sehingga kemampuan menghafal dan daya pemahamannya sangat mengagumkan.

Sejak kecil Habib Abdullah gemar melakukan ibadah dan riyadhah. Kegemarannya ini seringkali menjadikan nenek dan orang tuanya merasa tidak tega melihat putranya yang cacat melakukan berbagai ibadah dan riyadhah. Mereka menasehati Habib Abdullah agar berhenti menyiksa dirinya. Demi menjaga perasaan kedua orang tuanya, Habib Abdullah pun mengurangi ibadah dan riyadhah yang sebenarnya amat ia gemari.

Beliau tumbuh dewasa di kota Tarim, Bekas-bekas cacarnya pun tidak tampak lagi diwajahnya. Beliau berperawakan tinggi, berdada bidang, berkulit putih dan berwibawa. Tutur bahasanya menarik, sarat dengan mutiara ilmu dan nasehat berharga.

Kegemaran Habib Abdullah
Dalam Menuntut Ilmu Dan Berdakwah


Beliau sangat gemar menuntut ilmu. Kegemarannya ini membuatnya seringkali melakukan perjalanan berkeliling ke berbagai kota (di Hadhramaut) untuk menjumpai kaum shalihin, menuntut ilmu dan mengambil berkah dari mereka.

Beliau berguru dengan lebih dari seratus ulama, diantaranya adalah :
1. al-Habib Umar bin Abdurrahman al-Aththas
2. al-Habib Aqil bin Abdurrahman as-Saqqaf
3. al-Habib Abdurrahman bin Syaikh Aidid
4. al-Habib Abu Bakar bin Abdurrahman bin Syihabuddin
5. al-Habib Sahl bin Ahmad Bahsin al-Hadi Ba Alawi
6. al Habib Muhammad bin Alwi as-Saqqaf
dan masih banyak lagi.

Dari guru-gurunya itulah ia banyak berpengaruh hingga menekuni tasawwuf sampai ia menyusun Ratib al-Haddad (wirid-wirid perisai diri, keluarga dan harta) yang terkenal ini. Dan dari guru-gurunya tersebut dengan kajiannya yang mendalam diberbagai ilmu keislaman menjadikannya benar-benar menjadi orang yang `alim, menguasai seluk-beluk syari`at dan hakikat, memiliki tingkat spiritualitas yang tinggi dalam tasawwuf hingga memperoleh tingkat al-Qutub al-Ghauts, seorang dai yang menyampaikan ajaran-ajaran islam dengan sangat mengesankan dan sebagai seorang penulis yang produktif yang karya-karyanya tetap dipelajari orang sampai saat ini.

Selain giat dalam menuntut ilmu, Habib Abdullah juga salah seorang dai yang gemar berdakwah. Banyak dari para penuntut ilmu yang datang berguru kepadanya. Keaktifannya dalam berdakwah menjadikannya digelari Quthbid Dakwah wal Irsyad.

Diantara murid-murid beliau adalah :
1. al-Habib Hasan bin Abdullah al-Haddad (putra beliau)
2. al-Habib Ahmad bin Zain al-Habsyi
3. al-Habib Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih
4. al-Habib Muhammad bin Zain bin Smith
5. al-Habib Ali bin Abdullah bin Abdurrahman as-Saqqaf
6. al-Habib Muhammad bin Umar bin Thaha ash-Shafi as-Saqqaf
dan masih banyak lagi.

Ibadah Habib Abdullah

Pada masa permulaannya, setiap malam beliau mengunjungi seluruh masjid dikota Tarim untuk beribadah. Salah seorang yang tinggal berdampingan dengan masjid tempat beliau biasa shalat mengatakan, “Setiap malam ketika penduduk kota ini lelap dalam tidurnya, aku selalu mendapati beliau berjalan ke masjid.” Sahabat beliau menceritakan, “Suatu hari aku berziarah bersama beliau ke makam Nabi Allah Hud as, malam itu seekor kalajengking menyengatku sehingga aku terjaga semalaman. Aku amati beliau malam itu tidak tidur, asyik beribadah sepanjang malam. Waktu kutanyakan hal itu, beliau menjawab bahwa telah tiga puluh tahun lamanya beliau berbuat demikian.”

Meskipun amat gemar beribadah, beliau tidak suka menceritakan atau memperlihatkan amalnya, kecuali bila keadaan sangat memaksa dan ia ingin agar amal shalihnya itu diteladani. Beliau berkata, “Aku sengaja tidak memperlihatkan amal ibadahku, meskipun “Alhamdulilah” aku tidak khawatir terkena riya`, akantetapi sebagaimana dikatakan oleh Nabi Yusuf as, “..aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, karena nafsu itu selalu mengajak berbuat kejahatan.”

Budi Pekerti Habib Abdullah

Beliau tidak menyukai kemasyhuran atau kemegahan, dan tidak suka dipuji. Beliau berkata, “Banyak orang membuat syair-syair untuk memujiku, sesungguhnya aku hendak mencegah mereka, tapi aku khawatir tidak ikhlas dalam berbuat demikian, sehingga kubiarkan mereka berbuat sekehendaknya. Dalam hal ini aku lebih suka meneladani Rasulullah saw, karena beliaupun tidak melarang ketika para sahabatnya membacakan syair-syair pujian kepadanya.”

Suatu hari beliau berkata kepada orang yang melantunkan syair pujian untuknya, “Aku tidak keberatan dengan semua pujian ini, yang ada padaku telah kucurahkan kedalam samudera Muhammad saw, sebab beliau adalah sumber keutamaan, dan beliaulah yang berhak menerima semua pujian, jadi bila sepeninggal beliau ada manusia yang layak dipuji, maka sesungguhnya pujian itu kembali kepadanya. Adapun setan, ia adalah sumber segala keburukan dan kehinaan, karena itu setiap kecaman dan celaan terhadap keburukan akan terpulang kepadanya, sebab setanlah penyebab pertama terjadinya keburukan dan kehinaan.”

Beliau tidak pernah bergantung pada makhluk dan selalu mencukupkan diri hanya dengan Allah swt. Beliau berkata, “Dalam segala hal aku selalu mencukupkan diri dengan kemurahan dan karunia Allah, aku selalu menerima nafkah dari khazanah kedermawanan-Nya.” Beliau juga berkata, “Aku tidak pernah melihat ada yang benar-benar memberi selain Allah swt. Jika ada seseorang memberiku sesuatu, kebaikannya itu tidak meninggikan kedudukannya disisiku, karena aku menganggap orang itu hanyalah perantara saja.” Beliau selalu bersungguh-sungguh dalam beribadah serta mengamalkan ilmu yang dimilikinya.

Disamping kesibukan beliau beribadah, dan berdakwah, beliau juga memelihara perkebunan dan ayam, yang mana dari hasil perkebunan dan ayam tersebut beliau gunakan untuk membantu faqir miskin, anak-anak yatim, janda, penuntut ilmu, dan orang-orang yang tidak mampu. Habib Abdullah juga mengetahui tentang ilmu pertanian, bahkan sering kali ia duduk bersama petani-petani untuk mengajarkan ilmu-ilmu pertanian.

Karya tulis Habib Abdullah

Selain dikenal sebagai seorang yang ahli dalam berdakwah, Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad juga dikenal sebagai salah seorang penulis yang produktif. Keindahan susunan bahasa serta mutiara-mutiara nasehat yang terdapat dalam karya-karyanya, menunjukkan akan keahlian beliau dalam berbagai ilmu agama. Bukan hanya kaum awam saja yang membaca dan menggemarinya, akantetapi sebagian ulama pun menjadikannya sebagai pegangan dalam berdakwah.

Diantaranya adalah :
1. an-Nashaih ad-Diniyyah
2. ad-Dakwatut Taammah wa Tadzkiratul `Aammah
3. Risalatul Mu`awanah wal muzhaharah wal Mu`azarah
4. al-Fushulul Ilmiyyah
5. Sabilu Iddikar
6. Risalatu Mudzkarah
7. Risalatu Adab Sulukul Murid
8. Kitabul Hikam
9. an-Nafaisul Uluwiyyah
10. Ithafus Sail Bijawabil Masail

Selain itu, terdapat ucapan dan ajaran-ajarannya yang sempat dicatat oleh murid-murid dan para pecintanya, antara lain :
1. al-Mukatabat (kumpulan surat menyurat)
2. Ghayatul Qashad wal Murad oleh
3. Tatsbitul Fuad

Diakui oleh para sufi, bahwa ada ketinggian dan keindahan spiritualitas yang tinggi pada kesufian Habib Abdullah. Dapat dilihat dari karya-karyanya tersebut betapa sejuk dan indahnya bertasawwuf. Tasawwuf bagi Habib Abdullah adalah ibadah, zuhud, akhlak, dan dzikir, suatu jalan membina dan memperkuat kemandirian menuju kepada Allah swt.

Di dalam salah satu karyanya yang bernama Sabilu Iddikar, Habib Abdullah menjelaskan tentang kehidupan manusia sejak dalam rahim, di dunia, di alam mahsyar, sampai pada kehidupan yang abadi, disertai dengan ayat-ayat al-Qur`an dan hadits-hadits yang tersusun rapi dengan uraian yang mengesankan.

Dalam kitabnya Risalatul Mu`awanah, Habib Abdullah menegaskan pesannya kepada ummat Islam untuk berpegang teguh pada al-Qur`an dan al-Hadits, termasuk di dalamnya kehidupan tasawwuf yang tidak boleh lepas dari al-Qur`an dan al-Hadits, serta menghindari sesuatu yang menyimpang dari al-Qur`an dan al-Hadits.

Sedangkan dalam al-Mukatabat, beliau berpesan, seorang sufi harus menyaring dan menjernihkan segala perbuatan, ucapan, dan semua niat serta perilaku dari berbagai kotoran berupa riya`, dan segala sesuatu yang tidak disukai Allah swt. Selain itu manusia harus menghadap Allah secara terus-menerus secara lahir maupun batin dengan mengerjakan semua ketaatan hanya kepada Allah dan berpaling dari segala sesuatu selain Allah Yang Maha Esa.

Dalam al-Fushulul Ilmiyyah, Habib Abdullah menguraikan intinya adalah memurnikan tauhid (akidah) dari sumber-sumber syirik, kemudian menumbuhkan akhlak terpuji seperti zuhud, ikhlas, dan berperasangka baik terhadap kaum muslimin serta menghilangkan segala sifat buruk seperti cinta dunia, riya`, dan angkuh. Kemudian melaksanakan amal shalih yang nyata dan menjauhi perbuatan buruk. Mencari nafkah dengan baik melalui jalan wara` (menjauhkan diri dari segala sesuatu yang haram, dosa dan maksiat) dan qana`ah (mensyukuri sesuatu yang telah diusahakannya

Ratib al-Haddad

Selain karya tulis, beliau juga meninggalkan banyak doa-doa serta dzkir-dzikir susunannya. Diantara doa dan dzikir-dzikir yang beliau susun, ratib al-Haddad inilah yang paling masyhur di kalangan ummat Islam, khususnya di Indonesia.

Ratib ini beliau susun pada salah satu malam di bulan Ramadhan tahun 1071 H.
Ratib ini disusun untuk memenuhi permintaan salah seorang murid beliau yang bernama `Amir dari keluarga Bani Sa`ad yang tinggal di kota Syibam (salah satu kota di propinsi Hadhramaut). Tujuan `Amir meminta Habib Abdullah untuk menyusun ratib ini adalah, agar diadakan suatu wirid dan dzikir di kampungnya, agar mereka dapat mempertahankan dan menyelamatkan diri dari ajaran sesat yang ketika itu sedang melanda Hadhramaut.

Mulanya, ratib ini hanya dibaca di kampung `Amir sendiri, yaitu kota Syibam setelah mendapat izin dan ijazah dari al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad. kemudian, ratib ini pun mulai dibaca di masjid al-Hawi miik beliau yang terletak di kota Tarim.

Pada kebiasaannya, ratib ini dibaca secara berjamaah setelah shalat Isya`, dan pada bulan Ramadhan, ratib ini dibaca sebelum shalat Isya` untuk mengisi kesempitan waktu menunaikan shalat Tarawih, dan ini adalah waktu yang telah ditartibkan al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad untuk kawasan-kawasan yang mengamalkan ratib ini. Dengan izin Allah, kawasan-kawasan yang mengamalkan ratib ini pun selamat dan tidak terpengaruh dari ajaran sesat tersebut.

Setelah al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad berangkat menunaikan ibadah haji, ratib al-Haddad pun mulai dibaca di Mekkah dan Madinah. al-Habib Ahmad bin Zain al-Habsyi berkata, “Barangsiapa yang membaca ratib al-Haddad dengan penuh keyakinan dan keikhlasan, niscaya akan mendapat sesuatu yang diluar dugaannya.”

Ketahuilah bahwa setiap ayat, doa, dan nama Allah yang disebutkan dalam ratib ini dipetik dari al-Qur`an dan Hadits Nabi saw. Bilangan bacaan disetiap doa dibuat sebanyak tiga kali, karena itu adalah bilangan ganjil (witir). Semua ini berdasarkan petunjuk al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad sendiri. Beliau menyusun dzikir-dzikir yang pendek dan dibaca berulang kali, agar memudahkan pembacanya. Dzikir yang pendek ini jika selalu dibaca secara istiqamah, maka lebih utama dari pada dzikir yang panjang namun tidak dibaca secara istiqamah.

Demikianlah Habib Abdullah menghabiskan umurnya. Beliau menuntut ilmu dan mengajar, berda`wah dan mencontohkan, sampai akhirnya pada selasa sore, 7 Dzulqa`dah 1132 H, kembali menghadap Yang Kuasa, meninggalkan banyak murid, karya dan nama harum di dunia. Di kota itu pula, di pemakaman Zanbal beliau dimakamkan. Semoga Allah SWT memberi-Nya kedudukan yang mulia disisi-Nya dan memberi kita manfaat yang banyak dari ilmu-ilmunya.



Salam Perjuangan,
Nur'Ain Vivian 


PENGAJIAN BERKITAB @ MADRASAH DARUL ISTIQAMAH

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.Salam sejahtera buat sahabat semua.Semoga sentiasa dalam Rahmat Allah SWT, semoga segala urusan kalian senantiasa dipermudahkan dan dilapangkan, aamiin.

Alhamdulillah diberi kelapangan dan kekuatan untuk membuat sedikit coretan di sini untuk tatapan bersama sahabat semua.

Perkongsian bersama, sebagaimana ain pernah maklumkan pada coretan sebelum ini, kini ain dan suami menetap di salah sebuah madrasah sekitar Muar, Johor.

Di bawah ini ain kongsikan beberapa foto sewaktu sesi pengajian berkitab yang berlangsung baru-baru ini :



Antara sahabat muslimin yang hadir sewaktu pengajian.



Moga para jemaah yang hadir terus istiqamah menuntut ilmu Allah SWT, aamiin.



Para pelajar madrasah turut sama tidak ketinggalan mengikuti kuliah bersama penduduk setempat.



Ruang bahagian belakang dibahagikan bagi memisahkan kaum muslimat yang hadir.



Antara sahabat muslimat yang hadir



Ustaz Imran, mudir Madrasah Darul Istiqamah


Madrasah Darul Istiqamah adalah sebuah pusat pengajian berkitab yang terletak di Simpang Baba, Muar Johor.

Selain menjadi pusat pendidikan dan pembelajaran Islam bagi para remaja, madrasah ini turut mengadakan pengajian berkitab bagi orang dewasa pada waktu malam khususnya.

Foto-foto ini diambil dalam salah satu siri pengajian yang diadakan di sini iaitu setiap minggu pada hari Khamis, malam Jumaat, insyaAllah.

Beberapa kitab akan digunakan dalam sesi kuliah ini yang bermula sekitar jam 10pm-12pm.

Sesi pengajian akan dimulakan dengan bacaan zikir Ratib Al-Hadad dan majlis ilmu ini disudahi dengan bacaan selawat dan doa buat kaum muslimin dan muslimat, insyaAllah.

Muslimin muslimat dijemput hadir bagi memeriahkan majlis ilmu ini.
Bagi yang berminat menghadirkan diri, berikut adalah alamatnya :

Madrasah Darul Istiqamah :
Location LOT 1425, SB17, Kampung Simpang Baba, mukim sungai terap, 84000 Muar, Johor, Malaysia 

InsyaAllah akan ain kongsikan lagi perkembangan dan aktiviti kuliah yang disediakan di sini.

Salam Perjuangan,
Nur'Ain Vivian 


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

SAHABAT NUR

SAHABAT NUR